Baru saja aku hendak melangkahkan kaki ini menuju halte di seberang jalan untuk berteduh, ketika hujan tiba-tiba kembali deras. Basah sudah melekat sempurna di tubuhku. Aku menoleh ke kiri, berniat menerobos hujan demi menyelamatkan sisa-sisa bagian tubuhku yang masih kering. Kuayunkan kaki kiriku yang tak sempat disusul oleh pasangannya, karena ada sebuah sentuhan hangat menahan lengan kananku. Aku terhenti. Kulirik asal sentuhan itu, tanganmu. Tanganmu lah sumber kehangatan itu. Tak lama, sebuah mobil lewat dari arah kanan dengan kencangnya. Kau menyelamatkanku, aku berhutang nyawa padamu. Lalu kusematkan senyum di bibirku sebagai ucapan terima kasih kepadamu. Namun kau tak berekspresi. Raut wajahmu dingin, tampak kompak dengan cuaca saat ini. Belum sempat aku berterima kasih lewat kata, kau sudah berlalu membelakangiku. Kursi roda yang menggantikan fungsi kakimu, dengan kokoh membawamu melaju kencang menembus kabut. Aku berlari mengikuti arahmu. Terasa jelas, hujaman air hujan yang dingin menusuk tajam wajahku. Kemudian kabut menyingkir dari pandanganku. Namun kini, pemandangan di depanku ialah kau terbaring lemas di jalan, tak jauh dari tubuhmu tergeletak kursi roda yang sudah remuk hancur. Tubuhmu membasah, disertai warna merah pekat. Apakah air hujan sekarang telah berubah warna? Mungkin Tuhan bosan menurunkan air hujan yang selama ini bening, pikirku. Kuhampiri kau, kuangkat tubuhmu namun tak ada reaksi. Sekelilingku mendadak hiruk pikuk menyaksikan kita. Apakah kau adalah artis terkenal yang sedang bermain peran dengan berpura-pura mati untuk menghibur kami yang sedang bosan menunggu hujan berhenti? Kalau iya, aktingmu sangatlah luar biasa. Orang-orang menarik tubuhku, menjauhkanku darimu. Lalu mereka mengangkat tubuhmu dan memasukkannya ke sebuah mobil. Hei, kau penyelamat nyawaku sadarlah! Adeganmu telah usai, panggungmu hendak sepi.
—Charles Bukowski in Women (via nickmiller)
I can barely keep my eyes open, I think I’m gonna collapse soon.
Tuhan jika aku terlalu berseru. Ingatkan aku dengan tanda seru.
(Source: sadgenic)
HEBOHNYA udah dari satu bulan sebelumnya. Acara #wordisme ini digagas oleh penulis FAVORIT gue, @AlberthieneE. Dan sabtu itu, gue memilih atasan kuning kunyit dengan rok bunga-bunga cantik. Apa? Oke oke, sekali lagi, rok bunga-bunga cantik. Roknya yang cantik. ROKNYA.
Karena sampai di Gedung Kompas udah mepet jam 8 PAGI. *Haram seharam-haramnya nomer 1 buat gue adalah bangun pagi saat weekend*. Dan sabtu ini udah sukses bikin gue melakukan hal haram buatan gue sendiri. YAK! Bahkan jam 8 PAGI tempat workshop udah gegap geminta riuh gemuruh oleh ratusan peserta dari berbagai belahan nusa dan bangsa.
Alhasil dengan mulut nyinyir terus ngedumel gagal duduk di depan, dan terpaksa ngejogrok di bangku barisan ke 10 sebelah kanan. UNTUNGNYA, deket sama pintu akses keluar masuk, jadi lumayan bisa lirik-lirik manja ke bintang tamu yang gue yakin sengaja berseliweran minta diajak foto. *nyesel cuma bisa ngedip sama mangap gak berani minta foto*
Nyinyir terus bergulir sampai acara dimulai karena sama sekali gak bisa ngeliat pembicara di depan. Cuma bisa denger suaranya. *loncat-loncat dari bangku peserta* *tetep gak keliatan* *toyor-toyor kaki sendiri* .Aku tau tinggi badanku tidaklah sampai untuk melihat mereka para pembicara itu, tapi yakin lah bahwa tinggi cintaku akan terus berjuang meraih masa kita. « NGACONGACA
Nggak perlu disebut satu-satu lah yaa siapa aja yang jadi pembicara. Yang gue tunggu-tunggu, cuma Petty Fatimah, Reda Gaudiamo, Alberthiene Endah, Raditya Dika, Olli Salsabeela, Djenar Maesa Ayu, Clara Ng, Hetih Rusli, Windy Ariestanty, Salman Aristo, Alexander Thian, Aditya Gumay doang. ITU MAH SEMUANYA. Hahaa…
Gue cuma pingin tatap muka sama mba Alberthien Endah (@AlberthieneE), bang Raditya Dika (@radityadika), dan tante Alexander Thian (@aMrazing). Yang mana yaaa terhalang visualisasi gue oleh hamparan kepala-kepala bulat yang dengan gigihnya menghalangi gue untuk melihat pembicara unggulan gue.
TAPI itu gak menyurutkan antusias gue untuk ngikutin workshop (baca: makan siang dan snack yang enak). Tetap bertahan sampai acara selesai tepat jam 5 sore, dengan leher, bahu, punggung, pinggang, kaki pegel kaku akibat ulah 9 jam duduk dengan posisi ala ala Putri Indonesia. Tapi pegel kaku seluruh badan itu gak seberapa dibanding pegel hati aku nungguin kamu jadian sama aku. «NGACONGACA
NIGHTNIGHT by DEDDY